Rakyat Juga Manusia
Agustus 29th, 2008 by suraIni adalah sebuah cerita tentang sebuah negeri terpencil di sebuah tempat di sumatera tengah. Nagari ini nyaris terisolasi dari daerah luar. Jalan satu-satunya yang bisa dilewati mobil hanyalah jalan tanah selebar dua meter. Itu pun ketika musim kering, sebab jalan ini melewati sebuah sungai kecil yang belum berjembatan. Penduduknya juga tidak terlalu banyak, sekitar 1100 orang. Bagi mereka, sekolah adalah sebuah kesia-siaan. Mereka pernah kecewa pada sebuah konsep yang mereka kenal dengan sekolah. Di tahun 1980-an, banyak bujang dan gadih desa ini bersekolah ke kota kabupaten sampai tingkat SMA. Tiga orang diantaranya hamil sebelum menikah. Hanya satu yang meneruskan ke perguruan tinggi, masuk IKIP di Padang jurusan PMP. Dua lulusan SPG ada yang diangkat menjadi guru PNS, mengabdikan diri mengajar di kampung. Yang lain masih menjadi honorer, dengan janji pada 2009 sudah diangkat menjadi PNS. Sisanya yang bersekolah di STM dan SMA, kembali ke kampung menekuni profesi leluhur mereka bertani. Akhirnya di alam bawah sadar masyarakat nagari ini, merasa sekolah menjadi tidak penting. Toh semuanya berujung menjadi petani juga. Hasil panen orang bersekolah juga tidak lebih besar daripada petani lulusan SD belaka. Yang penting bisa menulis dan membaca. O..iya, mengaji juga.
Isolasi negeri ini sudah diketahui oleh hampir seluruh masyarakat sumatera tengah. Nagari ini sudah berubah menjadi sebuah bahan baku sebuah industri pencitraan. Pada rangkaian pemilu orde baru, menjadi daerah favorit sebuah partai untuk menyampaikan janji-janjinya. Lima tahun sekali, pasti akan terulang janji untuk membangun jembatan. Awalnya masyarakat berharap banyak. Namun lama-lama mereka sadar, ini hanyalah sekadar pembaruan janji. Setiap pejabat yang baru menjabat, biasanya akan berkunjung ke nagari ini. Mulai dari acara bakaua, panen besar atau pelantikan kepala desa. Lalu wartawan akan jepret sana, jepret sini. Pejabat akan dibilang peduli masyarakat kecil. Mau menyingsingkan kaki celana ketika melewati sungai kecil, tempat jembatan tak pernah berdiri.
Di era reformasi juga sama saja. Janji masih selalu diperbarui. Nagari ini menjadi semakin penting sebagai sebuah bahan baku utama industri pencitraan. Akhirnya masyarakat menjadi sadar, berharap memiliki posisi tawar penting hanyalah mimpi. Mereka tidak punya perantau dan orang gede yang mempu bertanya langsung pada Bupati dan Gubernur tentang jembatan di kampung mereka. Berharap pada hitung-hitungan kotak suara, jelas salah. Di tengah kapitalisasi voters saat ini, apalah artinya 600 suara sah dari nagari ini. Sadar-sesadarnya mereka berubah. Mereka berjanji akan menjadi bahan baku yang baik bagi sebuah industri pencitraan. Total dan all out dalam mepersiapkan diri menjadi bahan baku representasi wong cilik. Semua tokoh partai mereka terima. Calon anggota DPD juga. Atau hanya sekadar orang yang ingin popular belaka. Semua mereka sediakan. Mulai dari yel-yel puja-puji pda seorang tokoh. Sampai tangisan berderai air mata, cerita tentang kemiskinan dan keterisolasian mereka. Cerita dan janji jembatan sudah mereka kubur jauh-jauh. Yang tertinggal hanyalah selipan amplop di akhir acara. Ditambah sesekali makan bajamba, selepas sapi dan kambing sumbangan dibantai bersama-sama.
Nagari=desa