• 29

    Aug

    Rakyat Juga Manusia

    Ini adalah sebuah cerita tentang sebuah negeri terpencil di sebuah tempat di sumatera tengah. Nagari ini nyaris terisolasi dari daerah luar. Jalan satu-satunya yang bisa dilewati mobil hanyalah jalan tanah selebar dua meter. Itu pun ketika musim kering, sebab jalan ini melewati sebuah sungai kecil yang belum berjembatan. Penduduknya juga tidak terlalu banyak, sekitar 1100 orang. Bagi mereka, sekolah adalah sebuah kesia-siaan. Mereka pernah kecewa pada sebuah konsep yang mereka kenal dengan sekolah. Di tahun 1980-an, banyak bujang dan gadih desa ini bersekolah ke kota kabupaten sampai tingkat SMA. Tiga orang diantaranya hamil sebelum menikah. Hanya satu yang meneruskan ke perguruan tinggi, masuk IKIP di Padang jurusan PMP. Dua lulusan SPG ada yang diangkat menjadi guru PNS, mengabdikan d
  • 24

    Jun

    Pak Tani 1, Ibu Tani dan Pak Tani 2

    walau raga tak lagi bisa kurengkuh dalam gelap kita tetap menyatu di belakang tetap bisa kugamit senyummu menyatu dalam tawamu kita beriring bersama hasrat di kasat mata kita sudah jauh janji tak jadi gelanggang mata orang banyak masih kupegung teguh tapi siapa yang tahu ketika gelap ketika intaianku masih berlaku cegat dan kerlingku masih berlaku dalam setiap tatapmu kau bertanya soal kepandaian menyimpan bangkai ini bukan bangkai bangkai terlalu hina untuk cerita kita kau meragu dan kau katakan tentang api, dan katamu akan berasap juga ini juga bukan api apakah kau lupa tentang sejuk dan lembutnya cerita kita kembali kita berlanjut tentang cerita dalam gelap tak bergelanggang mata orang banyak kembali kau tapak pematangku selepas hantaran rantang pada junjungmu sifat aku menunggu
  • 24

    Jun

    Safari Dharma Raya, Jakarta - Surabaya 1997

    tunduk menekur ketika bising bersaut suara penjaja tiket berpadu salam dan ciuman para pengantar dalam sendiri tak banyak laku bisa terjalankan hanya anggukan tanpa senyum kau berikan ketika kita berdapat bangku yang sama sesudut mata kulihat lambaian menyapa dirimu berharap terus merindu Cikampek kita jelang belum sapa dan bincang tergelar kita masih bersibuk dalam lamunan tentang orang yang kita tinggal lambat melaun ia pecah sapa dan bincang terjalan sudah tentang kau yang bekerja, dan aku yang masih sekolah di Cirebon cerita berlanjut katamu, kau hendak turun kau katakan tentang smangkum mie yang kau rindu malam menyapa di Alas Roban sapa dan bincang semakin erat dalam laci sudah orang-orang yang kita tinggal tinggal sebuah cerita tentang laki-laki awal dua puluhan dan perempuan a
  • 24

    Jun

    Sawahlunto Solok Batu Taba Padang Panjang Kayu Tanam Padang 1938

    I nduk, jangan menoleh ke belakang lagi jangan kau bawa sedih ke tanah jauh biar ia tetap disini bersama emak dan bapakmu tinggalkan sedihmu di lubang kalam muara kalaban lepaskan embelmu sebagai anak orang rantai lepaskan patah hatimu karena dianggap orang tidak bersuku kumpulkan gembiramu ketika Silungkang engkau jelang lecut dirimu dengan semangat batang pamo jangan sampai sungai lasi, guguak manyambah, saok laweh menenggelamkamu dalam sedih di solok kau menjadi orang baru II mak, lengkingan peluit stasiun tak merubah lamunanku di solok aku masih sama seorang perindu yang sedang patah tanjuang bingkuang dan sumani tak mampu membuatku melupakan dirinya keruh batang gumanti cermin suramnya hatiku indahnya singkarak dan liukan kereta membawaku kembali pada air mata air mata yang kupun
  • 24

    Jun

    Halo dunia!

    Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post